Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2015

Tarombo

Silsilah atau tarombo merupakan cara orang batak menyimpan daftar silsilah marga mereka masing-masing dan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan dianggap sebagai "orang Batak kesasar" (nalilu). Orang Batak khusunya lelaki diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Hal ini diperlukan agar mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu klan atau marga. Beberapa contoh artikel yang membahas tarombo dari marga-marga Batak yaitu: *. Silaban *. Raja Naipospos, yang mempunyai lima putera dan menurunkan marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Marbun Lumban Batu, Marbun Banjar Nahor, Marbun Lumban Gaol *. Si Opat Pusoran, yang menurunkan marga Hutabarat, Panggabean, Simorangkir, Hutagalung, Hutapea, Lumban Tobing *.Raja Sonakmalela, yang menurunkan marga Simangunsong, Marpaung, dan Napitupulu dan mengangkat Parded

Partangiangan Dan Peletakan Batu Pertama Monumen Guru Mangaloksa

Gambar
Partangiangan dan Peletakan Batu Pertama Monumen Guru Mangaloksa yang dilaksanakan di Bukit Siatas Barita di Samping Rumah Kapal, Pada Tanggal 12 Januari 2015. Yang dihadiri dari banyak pihak yang mendukung acara pelaksanaan pembangunan monumen tersebut.             Acara sempat terhenti dikarenakan Tanah yang hendak di buat gedung Monumen ada pihak yang mengklaim Tanah tersebut menjadi Milik mereka. Panitia di Temani pengacara dari Sidoarjo bermarga Pasaribu, pergi ke Kantor Kapolres, untuk pengamanan.         Acara pertama adalah tor-tor Hasuhuton atau tor-tor dari anak Guru Mangaloksa yakni, Hutabarat, Panggaben (dan Simorangkir), Hutagalung, Huta Toruan (Hutapea dan Lumbantobing). Pada saat Manontor ada boru Hutabarat yang kesurupan Br. Simatupang Istri dari Guru Mangaloksa.         Acara kemudian Dilanjutkan dengan acara peletakan batu pertama yang dilaksanakan di Samping Rumah Kapal, yang dikatakan sebagai tempat peristirahatan terakhir dari Guru Mangaksa, yang kerasuk

Mangungkap Hombung

MANGUNGKAP HOMBUNG  Demikianlah orang Batak dahulu menamakan sebuah tempat penyimpanan mas, perak, intan, berlian dan harta pusaka lainnya. Hombung sejenis guci yang terbuat dari tanah liat di simpan dalam satu tempat yang tersembunyi di dalam rumah. Orangtua yang sudah lanjut usia ketika dia meninggal dan kemudian dikuburkan, ada sebuah acara yang dilakukan di rumah padamalam harinya. Itulah yang disebut dengan mangungkap Hombung. Membuka tempat penyimpanan harta benda orangtua yang sudah meninggal tadi. Sejak menurut orang Batak setiap orangtua pasti mememberikan miliki sejumlah harta atas kerja keras dan perjuangan selama hidupnya dan itu akan diberikan kepada keturunannya atau Warisan yang telah dipersiapkan kepada Anak Cucunya hasil kerja kerasnya selama masa hidupnya. Hula-hula dan orang tua serta kerabat dekat akan memulai pembicaraan untuk ungkap hombung ini. Sayang guci yang diharapkan tidak ada lagi, sebagai gantinya adalah sebuah tas, melambangkan hombung/guci tad